Pages - Menu

Jumat, 17 Mei 2013

Dear You #2


Hallo, gimana kabarnya hari ini? Semoga sehat selalu, yaa.. Eh iya, kita sudah nggak berhubungan berapa lama? Bukan nggak berhubungan sih, tapi jarang. Hmm, gimana mau berhubungan kalo aku terus yang ngehubungin kamu. Kenapa coba gak kamu dulu? Saling mengabari kan, salah satu membuat perasaan saling menenangkan. Aku sih senang kalo di hubungin, sama teman aja senang di hubungin. Apa lagi sama kamu.. Kalo soal ngehubungin. Kenapa harus aku dulu-an? Karena aku cowok, gitu? Selebihnya aku hanya ingin masih berhubungan denganmu. Aku tak mau lepas contact. Hmm.. Emang semua cewek gitu, yaa? Gengsi kalo ngehubungin dulu-an? Tapi kan.. Ini akunya yang kurang peka, atau kamunya yang egois? Entahlah, aku bingung.

*

“Kenapa, bro? Rupa-rupanya muka lau, kayak ada masalah nih. Masalah apa? Cewek lagi? Sudahlah, cewek itu memang dari sananya sudah tidak bisa di mengerti.” – celotehan farhan pun keluar, di saat aku sedang menyaksikan senja yang begitu sangat indahnya. Tidak lupa di temani oleh secangkir white coffe dan sebungkus cigarettes.

“Entahlah, senja itu sangat indah. Seperti suatu hubungan yang di jalani kemarin minggu.” | “Lalu, apa karna senja lau gak bisa lari dari kemarin minggu?” | “Senja hanyalah tonton-an untuk kita nikmati, selebihnya gue hanya ingin menikmati senja. Lari? Waktu itu memiliki kaki. Setidaknya ia akan lari sendiri dari kemarin minggu.”

Senja pada sore waktu itu, turun dengan angin yang sangat begitu sejuk, damai, dan aku dapat merasakan betapa angin itu menerpa kulitku. Huh, sayang.. Hanya aku yang bisa merasakan senja seperti itu. Selebihnya aku menginginkan kita ber-dua yang dapat menikmati senja seperti itu.

“Senja, adalah usaha antara langit dan matahari. Kita, adalah usaha antara aku dan kamu.”

Sore hari yang di temani oleh senja, tidak lupa dengan secangkir white coffee dan sebungkus cigarettes. Aku bertanya pada angin. “Sampaikanlah rinduku ini kepadanya, wahai angin.” Dan angin itu pun membalas perkataanku, walau hanya hembusan sejuknya.

**

“Galau kan? Rugi nge-galau-in orang yang gak pernah sadar. Ibarat lau ngomong sama batu. Percuma, bro!” – aldi. Tak di undang, tapi ia entah mengapa berkata seperti itu.

“Sudahlah, gue hanya menikmati senja. Nggak lebih.” | “Mulut, memang bisa bohong. Tapi hati, itu nggak bisa di bohongin.” | “Apasih.. Sudahlah, ini tentang gue dan dia. Dan senja adalah cerminnya.”

Selebihnya, ini hanya cerita aku dan senja. Kamu pelukan, dan aku senja. Kita adalah sepasang kekasih. Tapi, aku dan kamu itu seperti minyak. Tak akan bisa di persatukan oleh Tuhan.

“Sore ini, entah mengapa senjanya begitu indah.” | “Tuhan, menciptakan senja untuk kita nikmati. Bro.. Bukan untuk buat kita galau.” | “Ah, lau..”

Kamu selama ini nyari-in aku, gak sih? Nggak deh kayaknya. Kalo kamu nyari-in aku, selebihnya kamu pasti nge-hubungi aku. Katanya sih, orang yang mencintaimu. Dia bakal mencarimu. Faktanya, kamu kayaknya nggak deh.. Apa semua kaitannya, emang cewek itu gengsi kalo ngehubungi duluan? Entahlah, aku bingung.

Mungkin, kamu kayak gitu karna ada yang mempengaruhi kamu, yaa? Kamu gak usah terlalu percaya apa kata teman atau sahabat kamu katakan. Itu belum semuanya bener, lho.. Kali ini percaya deh sama aku. Kalo gak percaya juga.. Entahlah, aku bingung.

Hujan pun datang, di sela-sela senja yang begitu indah. Hujan datang dengan seribu alasan dan pertanyaan, yang tak mampu aku jawab semuanya.

“Hujan, adalah sebuah anugrah. Adem banget kalau hujan turun.” | “Yoi, bro.. Maka dari itu. Jadilah seperti hujan, walaupun berisik tapi dia bisa membuat hati adem.

Mungkin, kamu sudah merasakan bosan atau jenuh. Tapi kamu tak bisa mengartikan apa itu Bosan, dan Jenuh. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Itu sudah maumu, dan ini sudah jalanku. Tak ada yang harus kita pikirkan. Sela-in harus melihat tetesan hujan, yang jatuh rintik-rintik ke tanah dan atap rumah.

***

“Inget film RadioGalauFM bro. Milih orang untuk menjalin suatu hubungan itu, kayak milih sepatu. Semua orang pasti punya sepatu. Tapi semuanya gak pas kan? Mungkin, dia gak pas buat lau.” – ucon pun tersentak langsung menyambar obrolanku dengan farhan.

“Iya sih, tapi..” | “Tapi apa? Sudahlah, lo ini punya muka yang gak jelek-jelek amat. Bisa kan, cari yang lain?” | “Ini bukan tentang muka, ini tentang hati. Percuma ada orang yang lebih sempurna dari dia, kalo cuma dia doang yang gue rasa sempurna.”

“Launya juga harus lihat posisi lau yang sekarang dong.” – farhan pun memotong omonganku dengan ucon.

Kadang aku berpikir, memang benar. Untuk apa sih menjalin suatu hubungan kalo bakal menyakitkan hati? Tapi, faktanya aku gak bisa hidup tanpa cinta. Benar kata lagu bang Rhoma. Hidup tanpa cinta bagai taman tak ber-bunga.. Di balik semua ini, memang tulisan yang di tulis oleh Takdir.

“Ngapain sih menjalin suatu hubungan cuma untuk main-main atau cuma koleksi mantan? Kayak anak SMP tau gak. Kalo gak bisa menjalin suatu hubungan, jangan sekali-kali deh mencoba untuk menyentuh hatinya.” – Aldi. Dia sahabatku. Dia kadang selalu mirip dengan rokok, selalu ada di saat aku merasakan banyak rasa. Entah itu kesepian, kedinginan, bahagia maupun susah. Selebihnya aku menginkan kamu seperti dia, namun apalah artinya bila kamu tak memahaminya. Entahlah, aku bingung.

Sehari gak di hubungi sama kamu itu, gak enak. Sama halnya kayak sehari tanpa dengar lagu. Makan nasi tanpa piring atau mangkok. Makan bubur tanpa sendok. Keluar main tanpa sandal atau sepatu. Jalan-jalan gak bawa uang. Lagi asik-asik tidur terus di bangunin. Iya. Gak enak. Dan gak asik! Lebay sih, tapi.. Entahlah, aku bingung.

“Ada saatnya bahagia. Ada saatnya pula untuk terluka.” – Ucon. Dia pun sama, sahabatku. Dia kadang selalu mirip dengan korek. Yang selalu ada buat aku, dimana aku sedang berada diantara kebutuhan dan kenyamanan. Aku tak mau kamu sama dengannya, aku hanya kamu mengartikannya. Bila kamu tak paham. Entahlah, aku bingung.

Semenjak aku mengenal kamu.. Sejak itu pula aku mengenal kasih sayang. Dan semenjak itu pun aku mengenal senja, jarak, dan ke rinduan. Senja yang indah seperti hubungan kita yang se-indah senja. Jarak, adalah suatu killometer yang menghubungkan antara aku dan kamu. Dan rindu adalah jawabannya.
Bertemanlah dengan senja, pasti kamu akan mengenal ke indah-an. Bertemanlah dengan jarak, pasti kamu akan mengenal ke rindu-an. Bila kamu tak percaya. Entahlah, aku bingung.

“Entahlah, akhir-akhir ini gue rindu banget sama dia.” | “Rindu lau ini hanya gossip. Kalo bener rindu, temuin!” | “Bukan gitu, akhir-akhir ini dia juga sibuk.” | “Itu cuma speak!” | “Entahlah..”

Biarkanlah rindu ini mati dengan sendirinya.

“Dinginnya malam ini, membuatku terbangun dari ke rindu-an.”

Rindu, antara waktu dan jarak. Waktu yang menjawab, dan jarak yang akan mempertemukannya.

“I love you, but it’s not so easy. To make you here with me.” – EndahNResa. Dia penyanyi. Dia pun menceritakan tentang perasaanya ke sebuah lagu. Dan itu benar-benar nyata di kehidupan aku. Aku menyayangimu, tapi itu terlalu sulit. Untuk membuat kamu ada di sini. Aku butuh ke peka-an kamu di sini. Bila kamu tak juga peka. Entahlah, aku bingung.

Aku mengenalmu, itu bukan mauku. Itu sudah ada jalannya. Mungkin, Takdir yang menulis bahwa kita akan bertemu. Dan Takdir pun tak lupa menulis perpisahan kita. Takdir, menulis cerita aku dan kamu. Menulis pertemuan aku dan kamu, dan Takdir pun menulis perpisahan aku dan kamu. Itu sudah ada jalannya. Hmm. Entahlah, aku bingung.

****

“Untuk apasih menjalin suatu hubungan kalo bakal hati sakit?” – Farhan. Dia juga sama, sahabatku. Dia memang serada gak jelas, kalo ngomong kadang nyambung kadang gak jelas. Tapi.. Entahlah, aku bingung.

Bahagia itu adalah di mana saat aku tertawa, dan tersenyum waktu melihatmu. Bahagia pun adalah di mana saat aku memegang jemarimu. Jemarimu adalah ujung cerita yang paling aku nikmati. Bola mata indahmu yang mampu menyejukkan hati. Bibir manismu yang selalu inginku kecup. Helai-an rambutmu yang membuatku terpukau. Apakah kamu tak menyadarinya? Entahlah, aku bingung.

“Udah balik aja pacaran sama laptop. Semenjak lau taken sama laptop, belum pernah gue ngeliat lau galau akut kaya gini.” – Dea. Manusia yang jalan jinjit, dan kadang garing kalo ngomong. Dia agak sedikit pelit, tapi dia sama, sahabatku. Dan dia pun, agak maho. Entahlah, aku bingung.

Bahagia? Sudahlah, aku sekarang sedang menikmati kesedih-an. Selebihnya aku sudah menikmati kebahagia-an. Akhir-akhir ini aku sedang ter-luka. Begitulah nikmat hidup, bila kita sudah mengenal bahagia.
Tercipta-lah luka. Apapun bahagianya sudah di tempatkan luka di ujungnya. Bahagia dan Luka, aku dapatkan hanya satu paket. Kamu. Aku sudah cukup membawamu untuk tertawa, kini saatnya aku mengajakmu untuk menangis. Tertawa dan menangis, bahagia dan ter-luka. Itulah yang di namakan kasih sayang.
Aku telah ber-bahagia, dan aku pun tak lupa untuk ter-luka. Ada sedih di balik tawa. Ada luka di balik bahagia. Ada aku di balik kamu. Kita, kurang lebih seperti itu. Ber-temanlah dengan ke bahagia-an, sudah begitu kamu akan mengenal luka. Bila sudah mengenal ke duanya, hidupmu tak akan sia-sia.
Bahagia adalah di saat kita bersama. Luka adalah di saat kita berpisah. Bahagia dan Luka adalah nikmatnya hidup dari Tuhan yang harus kita pelajari. Entahlah, aku bingung.

“Apakah ini yang di sebut dengan, cinta? Yang dapat menghancurkan dan membangkitkan perasaan? Apakah ini yang di sebut dengan, rasa? Yang mampu menjadi penghancur dan semangat untuk hidup? Dan. Apakah ini yang di sebut dengan, kita? Yang kadang terbelit dan susah untuk mempelajari apa arti dari Bahagia dan Luka?”

Tulisan itu tentang sajak dan baku, tentang paragraf dan garis baru. Perasaan itu tentang aku dan kamu, tentang bahagia dan luka. Kita, adalah tulisan Takdir untuk bersama. Dan, Takdir pun tak lupa untuk menulis kita berpisah. Entahlah, aku bingung.

“Cinta, 5 huruf. Cinta mampu membuat mahkluk untuk hidup, dan mampu juga membuat mahkluk untuk membuat mati. Rasa, 4 huruf. Rasa yang harus bisa merasakan dan mempelajari apa arti Bahagia dan Luka. Kita, 4 huruf. Aku dan Kamu. Tercipta atas Rasa dan Cinta.”

Hati itu seperti apa? Seperti kaca, kah? Kaca yang sudah hancur tak akan mungkin bisa di benar-kan lagi seperti semula. Hati yang sudah hancur bisa di benar-kan seperti semula. Jangan samakan kaca dengan hati, hati adalah nama organ tubuh yang ber-nama liver. *loh
Patah hati itu gak usah nangis, toh pohon aja kalo rantingnya ada yang patah. Dia tak menangis.

“Aku masih bertahan, aku hanya memastikan apakah hatiku ini masih hidup untukmu. Apa sudah mati untukmu. Asal kamu tau, tak selalu hati ini akan hidup padamu. Suatu saat ia akan mati. Aku tak mau ada penyesalan di saat hatiku sudah mati untukmu. Maaf.”

Banyak yang lebih sempurna dari kamu. Banyak yang lebih baik dari kamu. Banyak yang lebih dari kamu. Tapi apalah artinya bila kamu doang yang paling aku rasa sempurna.

“Cowok memang mata keranjang, namun bila hatinya sudah satu pihak. Dia tak akan mungkin macem-macem.” – Lucky. Dia pun sama, sahabatku. Apabila perkataanya benar, aku sanggup bersumpah. Tapi kalo hanya untaian kata. Entahlah, aku bingung.

Aku gak akan berjanji untuk mengajakmu jalan-jalan ke paris, yang katanya tempatnya romantis. Tapi, insyaallah aku akan mengajakmu jalan-jalan ke surga, di sana jauh lebih romantis dan kita ber-dua pasti akan bahagia. I wish you were here or, I was there. Or we were together anywhere..forever.

Aku gak akan kuat nge-biaya-in kamu ke paris, lah aku sendiri juga gak tau. Mending kita sholat ber-jama’ah. Aku imam, kamu jadi makmum. Sederhana itu indah.

“Semua pasti mempunyai titik jenuh, dan titik jenuh itu yang harus kita pelajari. Untuk menjadi yang baik dari yang terbaik.” – Adam. Dia selebihnya sudah ku anggap sebagai adik. Karna dia sedikit muda, di perkumpulan aku. Tapi, dia mempunyai pemikiran yang terbuka dan dewasa. Menurutmu, ini aneh. Entahlah, aku bingung.

Ada saatnya kita untuk merasakan jenuh, ada saatnya pula kita untuk mempelajarinya. Hubungan akan indah bila saling belajar dan memahami. Mengerti, dan tak luput dari kata kepercaya-an.

Terima kasih atas semua yang telah kamu berikan. Terima kasih pula telah mengajarkanku arti akan hidup, tentang terbang dan terjatuh, bahagia dan luka, tawa dan tangis. Selebihnya, aku mampu menjaga dan merawatmu. Selayaknya aku menjaga barang kesayanganku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Statistik